banner 320x100 banner 150x135 banner 150x135 banner 150x135 banner 150x135

Warga Tercekik Debu dan Bahaya Longsor: Galian Kopisan Dalam Tak Tersentuh Pengawasan!

Singkawang, Bencana.co.id — Suasana di kawasan Jalan Kopisan Dalam kini berubah drastis. Yang dulu adalah lingkungan hijau dan tenang, kini telah menjelma menjadi area galian besar yang tampak semrawut, brutal, dan tidak terkontrol. Tanah dikeruk dalam jumlah masif, batu-batu raksasa berserakan, dan alat berat beroperasi tanpa ada satu pun informasi resmi yang dipasang di lokasi.

Yang membuat warga semakin muak adalah bungkamnya pihak RT setempat. Warga menilai RT diam seribu bahasa, seolah tak peduli meski wilayahnya sendiri tengah berubah menjadi zona rawan bencana. Tidak ada pengawasan, tidak ada penertiban, dan tidak ada usaha memberi penjelasan kepada warga yang merasa gelisah.

Di lokasi, terlihat ekskavator bekerja menggali tebing hingga curam. Tanah yang terganggu parah tampak labil, sementara bongkahan batu besar berjatuhan di area yang tidak diberi garis pengaman. Warga khawatir kondisi ini tinggal menunggu waktu sebelum menjadi bencana longsor yang mengancam keselamatan.

“Kalau hujan besar turun, jangan salahkan siapa-siapa. Ini jelas sudah kelewat batas,” ujar seorang warga yang tidak ingin disebut namanya. Ia menilai RT dan pihak terkait terlalu lamban bahkan diduga sengaja membiarkan aktivitas itu berjalan.

banner 500x350

Lebih jauh, warga mempertanyakan apakah aktivitas galian tersebut memiliki izin resmi. Tidak terlihat papan proyek, tidak ada identitas pelaksana, dan tidak ada dokumen transparan yang biasa dipasang dalam kegiatan legal. Yang ada hanya suara mesin, tanah berserakan, dan lahan yang diacak-acak seolah kawasan itu tidak bertuan.

Kekecewaan warga bukan tanpa alasan. Selain potensi longsor, aktivitas galian ini membuat jalan rusak, menimbulkan debu tebal, dan mengganggu kenyamanan lingkungan. Beberapa rumah warga terlihat berada sangat dekat dengan lokasi pengerukan.

Sampai berita ini diturunkan, pihak RT maupun aparatur lingkungan lainnya belum memberikan klarifikasi. Publik menilai sikap diam ini semakin memperkuat dugaan bahwa ada pembiaran yang disengaja atau kepentingan tertentu yang membuat aktivitas tersebut tak tersentuh.

Masyarakat kini mendesak pemerintah kelurahan, kecamatan, hingga dinas terkait untuk turun tangan tanpa kompromi. Pemeriksaan izin, penghentian sementara galian, serta evaluasi kinerja RT setempat menjadi tuntutan mendesak warga.

Kegiatan galian di Jalan Kopisan Dalam kini menjadi simbol kelalaian paling mencolok—bagaimana suatu wilayah bisa rusak parah ketika aparat paling dekat dengan warga justru memilih bungkam dan membiarkan kerusakan terjadi tepat di depan mata.

Kontributor : Johannes Sitorus

Anda mungkin juga menyukai :