MAGELANG, Bencana.co.id – Di bawah bayang-bayang kemegahan pegunungan yang menyelimuti wilayah Magelang, sebuah momen bersejarah tercipta bagi masyarakat Labuhanbatu Utara (Labura). Rimba Bertuah Sitorus (RBS), putra daerah yang tumbuh besar dalam suasana pesisir, kini berdiri tegak di tengah-tengah jajaran pimpinan legislatif dari seluruh penjuru Nusantara.
Kehadirannya dalam ajang retret nasional Ketua DPRD se-Indonesia periode 2024–2029 bukan sekadar pemenuhan undangan formal. Bagi Rimba, ini adalah misi membawa identitas Labura ke level yang lebih tinggi. Di antara diskusi strategis mengenai masa depan daerah, sosoknya mencuri perhatian bukan hanya karena jabatannya, melainkan karena semangat “anak pesisir” yang ia bawa dengan bangga.
Puncak dari partisipasi Rimba dalam forum nasional tersebut terjadi saat Presiden Republik Indonesia memberikan apresiasi langsung. Sebuah buku berjudul Paradoks Indonesia diserahkan langsung oleh Presiden kepada Rimba—sebuah simbol penghargaan sekaligus pengakuan atas kontribusi pemikirannya di tingkat nasional.
Momen ini menjadi perbincangan hangat di tanah kelahirannya. Bagi masyarakat Labura, bingkisan tersebut bukan sekadar simbol kertas dan tinta, melainkan sebuah pesan bahwa aspirasi dari daerah pesisir yang jauh dari pusat kekuasaan tetap terdengar hingga ke telinga pemimpin tertinggi negara.

Perjalanan Rimba Bertuah Sitorus adalah cermin dari ketangguhan. Lahir dan tumbuh di wilayah pesisir yang sering kali menghadapi tantangan keterbatasan akses, ia membuktikan bahwa latar belakang geografis bukanlah penghalang bagi seseorang untuk berkompetisi secara sehat di panggung nasional.
Namanya kini sejajar dengan tokoh-tokoh penting dari kota-kota besar lainnya di Indonesia. Keberhasilannya menembus panggung nasional ini memberikan pesan kuat bagi generasi muda di Labura: bahwa mimpi setinggi apa pun dapat diraih selama ada dedikasi, kerja keras, dan komitmen yang tak tergoyahkan pada kepentingan rakyat.
Kehadiran RBS di Magelang adalah bukti bahwa Labura tidak pernah kekurangan figur tangguh. Meski jauh dari pusat hiruk-pikuk nasional, daerah ini terus melahirkan pemimpin yang mampu berbicara banyak di tingkat pusat.
Momentum ini diharapkan mampu memicu gelombang inspirasi baru. Rimba telah membuka jalan, menunjukkan bahwa anak pesisir pun memiliki hak dan kemampuan yang sama untuk mengharumkan nama daerah di kancah nasional. Dari Labura untuk Indonesia, sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa kualitas kepemimpinan tidak ditentukan oleh dari mana kita berasal, melainkan seberapa besar kontribusi yang bisa kita berikan untuk bangsa.
Johannes Sitorus